Bukan Lagi Beton: Kenapa ‘Mushroom-Based Construction’ Jadi Standar Baru Gedung Ramah Lingkungan di Jakarta 2026

Pernah nggak sih, lo ngebayangin gedung tinggi di SCBD itu tumbuh dari… jamur? Bukan, bukan jamur kuping yang lo tumis buat sayur. Tapi miselium—akar halus jamur yang sekarang lagi naik daun banget di kalangan pengembang properti Jakarta. Ya, tren mushroom-based construction bukan cuma iseng-iseng. Ini udah jadi standar baru buat gedung ramah lingkungan di 2026. Dan ini bukan cuma soal “hijau” doang—ini tentang “Biological Engineering over Mechanical Building.” Ganti pendekatan mekanis yang selama ini kita pake dengan proses biologis yang lebih alami.

Jadi gini ceritanya. Para peneliti di Indonesia udah berhasil bikin bio-komposit dari serbuk kayu yang direkatin sama miselium jamur tiram putih. Hasilnya? Bahan dengan kuat tekan 31.91 MPa—mendekati kekuatan paving block pada umumnya. Itu hasil penelitian yang dipublikasi di International Journal of Integrated Engineering tahun 2024 . Bayangin, limbah pertanian yang biasanya dibakar atau dibuang, sekarang bisa jadi bahan bangunan yang kokoh.


Kenapa “Biological Engineering” Tiba-tiba Jadi Pilihan?

Gini, pendekatan biological engineering ini beda banget sama konstruksi konvensional. Kalo dulu kita “membangun” dengan cara mekanis—ngaduk semen, ngecor beton, ngepress baja—sekarang kita “menumbuhkan” bahan bangunan. Prosesnya terinspirasi dari alam, kayak bikin tempe: jamur dimasukin ke media tumbuh (substrat) yang biasanya limbah pertanian kayak serbuk kayu, sekam padi, atau ampas tebu. Miseliumnya tumbuh, ngiket partikel-partikel itu, dan jadilah material padat yang kuat .

Ini bukan cuma soal mengurangi limbah. Ini soal mengubah cara kita berpikir tentang konstruksi. Bahan-bahan ini 100% alami, non-toksik, dan—yang paling penting—bisa terurai secara alami . Nggak ada limbah beracun, nggak ada formaldehida, nggak ada VOC yang sering nempel di material bangunan konvensional.

Data dari penelitian di UI juga nunjukkin kalo miselium yang mencakup 63% dari desain fasad hybrid punya potensi luar biasa buat mencapai circularity bangunan . Artinya, material ini bener-bener bisa dipake ulang atau dikembaliin ke alam tanpa ngerusak lingkungan. Di sisi lain, penggunaan mycelium-based blocks dilaporkan bisa ngurangin biaya konstruksi sampe 25% dan emisi CO₂ sebanyak 250 kg per proyek . Itu angka yang nggak main-main buat developer yang kepengen bangun ramah lingkungan tanpa bikin budget jebol.


3 Contoh Nyata yang Bikin Jakarta Melongo

1. MYCL (Mycotech Lab) dan Produk Biobo

Ini pelopornya. MYCL—perusahaan asal Bandung yang udah dapet sertifikasi B Corp dengan skor 81.5 (median bisnis biasa cuma 50.9)—ngembangin material bangunan dari miselium. Salah satu produk unggulannya: Biobo, panel dinding komposit berukuran 30×30 cm yang terbuat dari limbah produksi dan limbah pertanian, direkatkan tanpa lem kimia . Biobo udah dipake di proyek perumahan Batam—inisiatif pemerintah buat ngerespon kebutuhan hunian sekaligus solusi berkelanjutan .

2. Fasad Hybrid EC Building UI

Penelitian Kwarista Dharma Smitha dari Universitas Indonesia nunjukkin potensi besar mycelium brick buat fasad Gedung Engineering Center UI. Dengan pendekatan hybrid—63% material biologis dicampur material teknis—gedung ini bisa jadi contoh bangunan circular pertama di Indonesia . Penelitian ini pake metode Building Circularity Calculation (BCC) dan Material Passport buat ngeukur dampak lingkungan. Hasilnya? Material biologis secara umum punya dampak lingkungan yang jauh lebih rendah dibanding material teknis.

3. Gedung Healing dengan Mycotech

Peneliti dari Universitas Tarumanagara bahkan ngusulin gedung khusus buat pemulihan depresi di Jakarta yang pake Mycotech sebagai material utama . Konsepnya: material alami dengan warna earth-tone dan tekstur organik bisa memberikan stimulus positif buat pasien depresi. Ini bukan cuma soal konstruksi, tapi tentang healing architecture—gedung yang beneran bisa bantu orang sembuh lewat materialnya .


Data yang Bikin Developer Mikir Dua Kali


Practical Tips: Cara Developer Mulai Adopsi Mushroom-Based Construction

  1. Mulai dari Komponen Non-Struktural Dulu: Panel dinding, partisi, atau insulasi adalah titik masuk yang paling gampang. Biobo dari MYCL udah tersedia dalam bentuk panel siap pasang .
  2. Kolaborasi dengan Peneliti Lokal: Kampus kayak UI, ITB, atau Universitas Tarumanagara udah punya riset mendalam soal material ini. Ajak mereka kolaborasi buat proyek percontohan.
  3. Cek Sertifikasi: MYCL udah punya sertifikasi B Corp dan E0 Formaldehyde Emission Category—jaminan material bebas formaldehida dan VOC .
  4. Pertimbangkan Siklus Hidup Material: Material berbasis miselium punya umur pakai lebih pendek dibanding beton . Tapi ini bukan kelemahan—ini peluang buat desain circular di mana material bisa dikomposkan dan diganti secara periodik.
  5. Edukasi Tim dan Klien: Banyak yang masih ragu sama material baru. Kasih tau data kuat tekannya, ketahanan apinya, dan efisiensi biayanya .

Common Mistakes yang Sering Dilakuin


Kesimpulan: Mushroom-Based Construction Adalah Masa Depan, dan Itu Dimulai dari Indonesia

Jadi, mushroom-based construction di 2026 bukan cuma tren. Ini adalah perwujudan dari “Biological Engineering over Mechanical Building” —pendekatan konstruksi yang nggak cuma “kurang merusak” tapi beneran menyembuhkan. Material yang tumbuh dari alam, balik ke alam, dan di tengah perjalanannya bikin gedung lebih sehat, lebih hemat energi, dan lebih ramah lingkungan. Dan yang bikin lebih membanggakan: riset dan inovasi ini lahir dari Indonesia—dari Bandung, dari UI, dari para peneliti lokal yang nggak cuma ngomong, tapi beneran ngerjain. Buat lo para pengembang dan kontraktor yang pengen jadi bagian dari perubahan, ini saatnya. Bukan lagi beton. Ini jamur.